makalah sejarah tentang marxisme

TUGAS

SEJARAH INTELEKTUAL

Tentang

Lahirnya Konsep Marxisme Beserta Masalah-masalahnya Dalam Masyarakat

Dosen pembimbing :

Agus Mursidi, M.Pd

Oleh:

M.Choirul Anwar        08872010314

Fakultas Keguruan Dan Ilmu Pendidikan

Universitas PGRI Banyuwangi

(UNIBA)

2011
PENGESAHAN

Makalah ini berjudul “lahirnya konsep marxisme beserta masalah-masalahnya dalam masyarakat” dibuat untuk memenuhi tugas dalam mata kuliah Sejarah Intelektual

Banyuwangi,

Hari :

Tanggal,

Penyusun

 

M. Choirul Anwar

Awaludin Prima

Filomena

 

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puja dan puji syukur ke Khadirat Allah SWT yang tulus atas berkat dan rahmat yang dilimpahkan kepada hamba-Nya, sehingga kami mahasiswa UNIBA PGRI Banyuwangi dapat menyelesaikan tugas makalah dengan baik yakni tentang “lahirnya konsep marxisme beserta masalah-masalahnya dalam masyarakat”.

Makalah ini adalah hasil kajian dari berbagaui literatur yang kami kemas dalam makalah  tentang “lahirnya konsep marxisme beserta masalah-masalahnya dalam masyarakat”.

Dalam keterbatasan waktu dan kemampuan yang kami miliki, makalah tentang “lahirnya konsep marxisme beserta masalah-masalahnya dalam masyarakat”, dapat kami selesaikan berkat dorongan dan dukungan yang sangat besar dari bapak Agus Mursidi, M.pd. selaku dosen pembimbing serta rekan-rekan yang terlibat langsung dalam penyusunan makalah ini.

Akhirnya dengan kesadaran penuh akan kekurangan yang terdapat dalam makalah ini, kami menanti kepada para pembaca berkenan memberikan berbagai masukan berupa kritik dan saran untuk menyempurnakan tugas kami selanjutnya.

Banyuwangi, 17 Oktober 2011

Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………………………………………. i

HALAMAN PENGESAHAN………………………………………………………………………………………. ii

KATA PENGANTAR ………………………………………………………………………………………………… iii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………………………………………….. iv

BAB I   PENDAHULUAN…………………………………………………………………………………………… 1

1.1  Latar Belakang Masalah………………………………………………………………………………….. 1

1.2  Rumusan Masalah…………………………………………………………………………………………… 2

1.3  Tujuan dan Manfaat Makalah…………………………………………………………………………… 2

1.4  Waktu dan pembuatan makalah………………………………………………………………………… 2

1.5  Metode Pembuatan Makalah……………………………………………………………………………. 3

BAB II  KAJIAN TEORI…………………………………………………………………………………………….. 4

2.1     Proses Lahirnya Marxisme……………………………………………………………………………… 4

2.2     Dogmatisasi Ideologi Karl Marx…………………………………………………………………….. 6

2.3     Masalah-Masalah marxisme……………………………………………………………………………. 14

BAB III PEMBAHASAN MASALAH…………………………………………………………………………. 17

3.1     Lahirnya Marxisme……………………………………………………………………………………….. 17

3.2     Masalah-Masalah Yang Timbul Akibat Ideologi Marxisme Dalam Masyarakat…….. 20

BAB IV PENUTUP……………………………………………………………………………………………………… 24

4.1 Kesimpulan…………………………………………………………………………………………………… 24

4.2 Saran……………………………………………………………………………………………………………. 24

DAFTAR PUSTAKA………………………………………………………………………………………………….. 26

BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

                Didalam disiplin ilmu sejarah banyak sekali faham yang berkebang mengenai kehidupan manusia. Perkembangan ini petama-tama lahir didaratan eropa yang kemudian berkembang menguasai dunia, bahkan sampai sekarangpun manusia masih menggunakan, melaksanakan, mempelajari serta mengembangkan faham–faham yang pernah berkembang disana.

                Perkembangan faham – faham ini menurut teori sejarah dimulai sejak zaman yunani kuno, dan mengalami perkembangan yang sangat pesat sekitar abad XV sampai abad XIX. Pada masa itu muncul beberapa tokoh fulsuf yang terkemuka sebagai pengembang filsuf – filsuf yunani kuno. Tokoh – tokoh itu antara lain Karl Marx, Hegel, Montesque, dll. Tokoh – tokoh itu masing – masing membawa sebuah pemikiran yang besar sehingga menjadi sebuah faham atau aliran.

                Aliran–aliran yang berkembang besar dimasa itu antara lain naturalisme, idealisme, sosialisme, materialisme, kapitalisme, marxisme, dll. Masing–masing faham itu antara satu dengan yang lainnya selalu saja berkaitan karena tiap–tiap filsuf yang mendukung sebuah teori maka cinderung mengembangkannya dan menjadi aliran yang baru, begitupun juga dengan penentang sebuah teori maka mereka akan membuat teori antitesisyang kemudian juga menjadi aliran baru.

                Dari sekian banyaknya aliran yang berkebang di eropa maka kami sebagai kaum akademisi ingin mempelajari lebih jauh salah satu aliran tersebut yaitu ideologi marxisme. Dalam pandangan masyarakat umum banyak sekali pendapat yang mengatakan bahwa sosialisme, marxisme dan komunisme merupaka satu kesatuan yang tak terpisahkan. Masyarakat indonesia yang telah tersakiti denagn adanya pemberontaakan kaum komunis langsung saja menghakimi bahwa kominis itu haram  berada pada pikiran masyarakat indonesia, begitupunjuga denga marxisme dan sosialisme yang dianggap sebagai cikal bakal kominisme.

                Oleh sebab itu kami ingin memberikan sebuah konsep pemikiran yang berbeda dalam memandang marxsisme dalam konteks ilmiah yang balance(seimbang). Sehingga dalam mempelajari ilmu sosial kita akan benar–benar mendapat manfaat serta ilmu dalam mengaembangkan ilmu sejarah pada kususnya serta mendapatkan bekal dalam menjalani kehidupan yang kompleks dalam bermasyarakat secara utuh damai tentram dan sejahtera.

1.2  Rumusan Masalah

                Berdasarkan pengamatan yang dilakukan ada beberapa pokok permasalahan yang akan di ungkap dalam makalah pengamatan ini yaitu:

1)      Bagaimana proses lahirnya marxisme

2)      Bagaimana masalah–masalah timbul akibat lahirnya ideologi marxisme dalam masyarakat

1.3  Tujuan Dan Manfaat Makalah

                Dalam melakukan pembahasan permasalahan yang sesuai dengan judul makalah, penulis mempunyai beberapa tujuan yang di harapkan dapat di capai dalam pengamatan ini adalah untuk mengetahui :

1)      konsep pemikiran yang seimbang tentang marxisme.

2)      Perkembangan ideologi dan tokoh-tokoh marxisme.

3)      Masalah-masalah yang timbul dari teori marxisme.

                Selain tujuan, penulis juga mengharapkan dengan pengamatan dapat memberikan manfaat. Adapun manfaatnya sebagai berikut :

1)      Menambah khasanah ilmu pengetahuan

2)      Memberikan wawasan pengetahuan perkembangan ilmu sosial pada umumnya dan ilmu sejarah pada khususnya

3)      Memberikan pemahaman kepada penulis dan pembaca mengenai marxisme.

1.4  Waktu Dan Pelaksanaan pembuatan makalah

          Pembuatan makalah  ini dilakukan selama 2 minggu mulai dari tanggal 3 oktober 2011 sampai dengan 17 oktober 2011.

1.5  Metode Pengamatan

                Untuk mendapatkan hasil yang baik, makalah ini diangkat dengan menggunakan metode studi pustaka

1)      Studi pustaka

                Sumber data yang di gunakan adalah sumber data tertulis yaitu buku-buku referensi sesuai dengan judul penulisan yang kami peroleh dari buku-buku tentang teori pengertian dalam judul penulisan ialah buku sosiologi dan buku ilmu sosial lainnya untuk mempermudah dan membantu dalam penyajian teori dalam penulisan makalah ini.

2)      internet

                Sumber data yang di gunakan adalah sumber data tertulis dan gambar yaitu teori-teori referensi yang sesuai dengan judul penulisan yang kami peroleh dari halaman web tentang teori pengertian dalam judul penulisan ialah halaman web tentang marxisme untuk mempermudah dan membantu dalam penyajian teori dalam penulisan makalah ini. Dengan internet ini diharapkan penulis mendapatkan data serta masalah yang dikaji tentang marxisme untuk menunjang penulisan makalah ini.

BAB II

Kajian teori

 

2.1  Pengertian dan proses lahirnya maxisme

Marxisme adalah paham yang mengikuti pandangan-pandangan Karl Marx. Karl Marx adalah seorang filsuf, pakar ekonomi politik dan teori kemasyarakatan dari Prusia. Walaupun Marx menulis tentang banyak hal semasa hidupnya, ia paling terkenal atas analisisnya terhadap sejarah, terutama mengenai pertentangan kelas, yang dapat diringkas sebagai sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas, sebagaimana yang tertulis dalam kalimat pembuka dari Manifesto Komunis. Ideology Marxisme muncul dari kreativitas pemikir Karl Marx, yang sangat setia menjembatani teori materialis dialektis

Marxisme merupakan bentuk protes Marx terhadap paham kapitalisme. Ia menganggap bahwa kaum kapital mengumpulkan uang dengan mengorbankan kaum proletar. Kondisi kaum proletar sangat menyedihkan karena dipaksa bekerja berjam-jam dengan upah minimum sementara hasil keringat mereka dinikmati oleh kaum kapitalis. Banyak kaum proletar yang harus hidup di daerah pinggiran dan kumuh. Marx berpendapat bahwa masalah ini timbul karena adanya “kepemilikan pribadi” dan penguasaan kekayaan yang didominasi orang-orang kaya. Untuk mensejahterakan kaum proletar, Marx berpendapat bahwa paham kapitalisme diganti dengan paham komunisme. Bila kondisi ini terus dibiarkan, menurut Marx kaum proletar akan memberontak dan menuntut keadilan. Itulah dasar dari marxisme.(daddang supardan, 2008:334)

Karl Marx, lahir di Trier Jerman, 5 Mei 1818 dan meninggal di London, 14 Maret 1883. Karl Marx lahir dalam keluarga Yahudi progresif di Trier, Prusia, (sekarang di Jerman). Ayahnya bernama Herschel, keturunan para rabi, meskipun cenderung seorang deis, yang kemudian meninggalkan agama Yahudi dan beralih ke agama resmi Prusia, Protestan aliran Lutheran yang relatif liberal, untuk menjadi pengacara. Herschel pun mengganti namanya menjadi Heinrich. Keluarga Marx amat liberal dan rumah Marx sering dikunjungi oleh cendekiawan dan artis masa-masa awal Karl.(Wikipedia)

Marx menjalani sekolah di rumah sampai ia berumur 13 tahun. Setelah lulus dari Gymnasium Trier, Marx melanjutkan pendidikan nya di Universitas Bonn jurusan hukum pada tahun 1835 pada usia nya yang ke-17, dimana ia bergabung dengan klub minuman keras Trier Tavern yang mengakibatkan ia mendapat nilai yang buruk. Marx tertarik untuk belajar kesustraan dan filosofi, namun ayahnya tidak menyetujuinya karena ia tak percaya bahwa anaknya akan berhasil memotivasi dirinya sendiri untuk mendapatkan gelar sarjana. Pada tahun berikutnya, ayahnya memaksa Karl Marx untuk pindah ke universitas yang lebih baik, yaitu Friedrich-Wilhelms-Universität di Berlin. Di Berlin, minat Marx beralih ke filsafat, dan bergabung ke lingkaran mahasiswa dan dosen muda yang dikenal sebagai Pemuda Hegelian. Sebagian dari mereka, yang disebut juga sebagai Hegelian-kiri, menggunakan metode dialektika Hegel, yang dipisahkan dari isi teologisnya, sebagai alat yang ampuh untuk melakukan kritik terhadap politik dan agama mapan saat itu.

Pada saat itu, Marx menulis banyak puisi dan esai tentang kehidupan, menggunakan bahasa teologi yang diwarisi dari ayahnya seperti ‘The Deity’ namun ia juga menerapkan filosofi atheis dari Young Hegelian yang terkenal di Berlin pada saat itu. Marx mendapat gelar Doktor pada tahun 1841 dengan tesis nya yang berjudul ‘The Difference Between the Democritean and Epicurean Philosophy of Nature’ namun, ia harus menyerahkan disertasi nya ke Universitas Jena karena Marx menyadari bahwa status nya sebagai Young Hegelian radikal akan diterima dengan kesan buruk di Berlin.

Marx terkenal karena analisis nya di bidang sejarah yang dikemukakannya di kalimat pembuka pada buku ‘Communist Manifesto’ (1848): “ Sejarah dari berbagai masyarakat hingga saat ini pada dasarnya adalah sejarah tentang pertentangan kelas”.” Marx percaya bahwa kapitalisme yang ada akan digantikan dengan komunisme, masyarakat tanpa kelas setelah beberapa periode dari sosialisme radikal yang menjadikan negara sebagai revolusi keditaktoran proletariat (kaum paling bawah di negara Romawi).

Marxisme terlahir dari perlawanan dan perjuangan kelas buruh melawan sistem kapitalis, dan juga mewujudkan obsesi kemenangan gerakan sosialis. itu adalah dasar pijakan muncul gerakan ini, namun teori awal tujuan gerakan Marxisme tidak sesuai dengan realita dan cita Marx sesungguahnya.

2.2  Dogmatisasi ideologi karl marx

Hampir semua buku yang membahas tentang pemikiran Marx lebih meletakannya sebagai seorang ideolog dari pada memusatkan keseluruahan aktifitas terhadap konsep lain yang pernah dilontarkan Karl Marx apalagi ketika ajaran Marx di bakukan menjadi Marxisme oleh Friedrich Engels dan Karl Kautsky. Dalam pembakuan ini ajaran Marx yang sebenarnya rumit adan sulit dimengerti di sederhanakan agar cocok sebagai ideoloagi perjuangan kaum buruh. George Lucas menegaskan bahwa adukan Engels dan Kautsky itu menyimpang dari apa yang sebenarnya di maksudkan oleh Marx, pembakuan ini mencapai puncak ketika partai komunis Rusia di bawah Lenin melakukan revolusi pada Oktober 1917 dan mengkonstatir Marxisme Lenimisme sebagai ideologi resmi ajaran komunis.(listiono santoso, 2003: 35)

Pelembagaan pemikiran Marx menjadi ideologi tersebut pada akhirnya menimbulkan kesalahan masyarakat atas dirinya bahkan tidak jarang mereduksi makna sebenanrnya dari apa yang dilontarkan Marx. Pemikairan Marx kemudian memunculkan pengikut yang dogmatis dan fanatik serta melahirkan bentuk penolakan yang menaifkan atas pemikiran marx. Padahal Marx sendiri selalu menginginkan kebebasan berfikir sebab itu dalam karya – karyanya Marx mengutuk dogmatisme. Marx kemudian melihat teori – teorinya mengalami salah tafsir sehingga dari kenyataan ini ia pernah mengucapkan pengakuan, ‘sepanjang yang saya tahu, saya bukan seorang Marxis.’ (Muhammad Hatta 1975 : 17 ).

Kesalah pahaman ini telah menyebabkan pemikiran Marx di anggap penyakit yang menakutkan semua orang. Sebagai sosok, Marx memiliki alur pemikiran karakteristik dan khas yang membedakannya dengan filsuf lain. Pada diri Marx melekat sejumlah atribut sebagai bapak dan guru Sosialisme moderen, ekonom dan sosiolog. Karl Marx mampu mengubah cara berfikir manusia serta tindakan – tindakannya. Bahkan sebagai  sebuah ideologi parjuangan politis Marxisme menyemangati sebagian besar gerakan buruh sejak akhir abad 19 sampai sekarang yang mendasari kebanyakan gerakan kebebasan sosial.

Berdasar pengaruh pemikiran Marx atas filosof dan pemikir abad ke 20 dibidang pengetahuan serta paradigma Materialisme Dealektis yang dia kembangkannya dari pemikairan Hegel, maka struktur dasar kansep pengetahuan yang muncul pun selalu diletakan pada pemahaman atau asumsi Marx tentang dunia ini. Paradigma Materialisme Dialektis disini lebih di maknai sebagai asumsi awal Marx ketika ia mencoba menerjemahakan persepsi indra atas dunia dan benda sebagai kenyataan yang pokok ( fundamental reality ). Kandungan dari hukum dialektika itu sendiri tersusun dari tiga hal, secara singkat adalah:

Pertama: hukum perubahan (transformasi) kuantitas menjadi kualitas dan vice versa).

Kedua: hukum penafsiran mengenai yang berlawanan

Ketiga: hukum negasi dari negasi

Ketiga-tiganya dikembangkan oleh Hegel dengan gaya idealisnya sebagai sekedar hukum-hukum pikiran: yang pertama (dalam bagian pertama karyanya Logic) dalam Doktrin mengenai Keberadaan (Being), kedua (mengisi seluruh bagian kedua dan bagian yang paling penting dari Logic) Doktrin mengenai Hakekat (Essence), dan akhirnya, yang ketiga merupakan hukum fundamental bagi rancang-bangun seluruh sistem itu. Kesalahannya teori Hegel menurut Marxis terletak pada kenyataan bahwa hukum-hukum itu disisipkan pada alam dan sejarah sebagai hukum-hukum pikiran, mengembalikan kesemuanya pada pikiran, simpelnya, Hegel berpandangan mengembalikan realitas (waqi’i) pada pikiran, dan pikiranlah yang menciptakan realitas. Itu terjadi karena Hegel adalah seorang idealis. Beda halnya dalam pandangan Marxis bahwasannya gerak logika merupakan duplikat alam riil, bukan sebaliknya sebagai mana pendapat Hegel. Oleh karenanya seorang materialis selalu berusaha mencari penjelasan bukan hanya tentang ide-ide, melainkan juga tentang gejala-gejala material itu sendiri, dalam hal sebab-sebab material. Dan ini adalah aspek yang sangat penting dari Marxisme, yang secara tegas menolak metode-metode pemikiran dan logika yang telah mapan dalam masyarakat idealis ( feer dengan kapitalis). Kemudian Angels meletakkan teori-teori Marx dalam bingkai ilmu pengetahian sains.

1. Hukum transformasi dari kuantitas menuju kualitas dan vice versa.

Sebelum memasuki penjelasan hukum di atas, sebaiknya kita memahami terlebih dahulu bahwa perubahan dalam marxis terbagi dalam dua bentuk, pertama: perubahan irtiqoi, yaitu perubahan yang terjadi dikarenakan adanya penambahan atau pengurangan kapasitas-kuantitas secara gradual pada sesuatu. Kedua: perubahan stauri, yaitu peralihan dari perubahan kuantitas secara gradual menuju perubahan kualitas dari sesuatu, atau dengan kata lain revolusi bentuk ke bentuk lain yang baru, yang lebih sempurna. Dari penjelasan pembagian tersebut bisa memberikan gambaran pada kita bahwa yang dimaksudkan perubahan bentuk oleh Marxis adalah transformasi dari kuantitas menuju kualitas dan kebalikannya. Dua model perubahan tersebut merupakan proses penting berkaitan dengan teori evolusi materi, sosial, bahkan pemikiran ide.

Hukum ini menyatakan bahwa proses-proses perubahan gerak di alam semesta tidaklah perlahan (gradual), dan juga tidak setara. Periode-periode perubahan yang relatif gradual atau perubahan kecil selalu diselingi dengan periode-periode perubahan yang sangat cepat –perubahan semacam ini tidak bisa diukur dengan kuantitas, melainkan hanya bisa diukur dengan kualitas. Penjelasan rinci yang dimaksudkan dalam teori revolusi kuantitas menjadi kualitas adalah bahwa dalam materi dengan suatu cara yang secara tepat ditetapkan untuk setiap kasus individual, perubahan-perubahan kualitatif hanya dapat terjadi oleh penambahan kuantitatif atau pengurangan kuantitatif dari materi atau gerak (yang dinamakan energi). Masing-masing materi yang kapasitas kualitatifnya berbeda, berlandaskan pada perbedaan-perbedaan komposisi (susunan) kimiawi atau pada kuantitas- kuantitas atau bentuk-bentuk gerak (energi) yang berbeda-beda atau hampir pada kedua-duanya (kualitatif dan kualitatif). Oleh karena itu tidak memunginkan mengadakan perubahan kualitas suatu materi kecuali menambah/mengurangi materi atau gerak, yaitu tanpa perubahan sesuatu yang bersangkutan itu secara kuantitatif.

Agak rumit memang memahami teori ini tanpa diiring contoh yang jelas. Sebagai contoh temperatur suhu air, pertama-tama sesuatu yang tidak ada artinya dalam hubungan likuiditasnya, betapapun dengan peningkatan atau pengurangan suhu air cair (hanya perubahan kuantitatif), akan tetapi ada suatu titik di mana keadaan kohesi ini berubah dan air itu diubah menjadi uap atau es (perubahan ke kualititatif).

Bukan hanya saintis dialektika digunakan, namun Marxisme menggunakan teori logika ini lebih luas lagi, perkembangan species pun menggunakan teori ini di mata mereka, sampai-sampai teori ini menjadi motor dalam benak yang merubah kondisi masyarakat dari sistem yang terbelakang (kacau balau) menuju sistem sosialis, revolusionis. seperti peralihan dari sistem feodal menuju kapital, dan dari kapitalis menuju sosialis.

2. Hukum interpenetration of opposites

Teori hukum dialektika yang satu ini secara cukup sederhana bisa diartikan bahwasannya proses-proses perubahan revolusi terjadi karena adanya kontradiksi-kontradiksi (mutanaqidhot)– karena konflik-konflik yang terjadi di antara elemen-elemen yang berbeda, yang melekat dalam semua proses alam materi maupun sosial. Mungkin perlunya dipaparkan tentang yang maksud kontradiktisi dalam pendangan Marxis terbagi menjadi tiga hal. Pertama: kontradiktif dalam satu hukum. Istilah ilmu manthiq qodim di kenal dengan mani’atul jam’i wal khulwi. Mustahil dua hal yang berlawanan sama-sama benar dan sama bohong dalam satu tempat dan waktu. Oleh karena itu hanya satu dari kontradiktisi itu yang dibenarkan, dan yang lain disalahkan (bohong). Saya ateis dan saya juga bukan ateis. Kedua: kontradiksi internal, kontradiksi terjadi antara satu komponen dengan komponen yang lain dalam satu perangkat kesatuan. Lenin mancontohkan dengan kutub selatan dan utara pada gaya hukum magnetik. Atau min-plus pada arus listrik. Ketiga: kontradiksi eksternal. Maksudnya perbedaan antara sesuatu dengan yang lain memiliki perbedaan hakekat. Esensi inti atau jauhar dalam istilah manthiq. Seperti matahari dan tumbuhan. Dua bentuk kontradiksi di atas (internal dan ekternal) memainkan peran yang sangat penting dalam perjalanan teori revolusi. Tipe kedua dikatakan primer dan yang ketiga dikatakan sekunder.

Sebagai contoh dari hukum interpenetration of opposites adalah energi elektromagnetik, menjadi bergerak akibat dorongan positif dan negatif atas satu sama lain, eksistensi kutub utara dan kutub selatan. Hal-hal ini tidak bisa eksis secara terpisah (sendiri-sendiri). Mereka eksis dan beroperasi justru akibat kekuatan-kekuatan yang bertentangan satu sama lain (- dan +) yang ada dalam sistem. Hal yang serupa bahwa setiap masyarakat saat ini terdiri atas elemen-elemen berbeda yang bertentangan, yang bergabung bersama dalam satu sistem, yang membuat mustahil bagi masyarakat apapun, di negeri manapun untuk tetap stabil dan tak berubah. Metode dialektis hukum ke dua ini mengidentifikasi (mengenali) kontradiksi-kontradiksi ini dan dengan demikian berarti mempelajari serta menyingkap secara mendalam perubahan internal yang sedang terjadi. Beda halnya dengan hukum pertama yang menyingkap tentang rahasia peralihan kualitatif pada sesuatu.

3. Hukum negasi dari negasi.

‘Negasi’ dalam hal ini secara sederhana berarti gugurnya sesuatu, kematian suatu benda karena ia bertransformasi (berubah) menjadi benda yang lain. Sebagai contoh, perkembangan masyarakat kelas dalam sejarah kemanusiaan menunjukkan negasi (gugurnya) masyarakat sebelumnya yang tanpa-kelas. Jadi, hukum negasi dari negasi secara sederhana menyatakan bahwa seiring munculnya suatu sistem (menjadi ada/eksis) baru, maka ia akan memaksa sistem lainnya yang lama untuk sirna (mati) digantikan oleh sistem yang baru tersebut. Tetapi, ini bukan berarti bahwa sistem yang kedua (yang baru) ini bersifat permanen atau tak bisa berubah. Sistem yang kedua itu sendiri, menjadi ter-negasi-kan akibat perkembangan-perkembangan lebih lanjut dan proses-proses perubahan dalam masyarakat. Karena masyarakat kelas telah menjadi negasi dari masyarakat tanpa-kelas, negasi dari negasi. Bisa di katakan bahwa hukum negasi dari negasi dihasilhan sebagai solusi dari baberapa hal yang berlawanan dan bertentangan, urgensi pentingnya hukum ini adalah mampu menciptakan dan menafsirkan perubahan bentuk ke yang lebih baik, dan bentuk inipun tidak menutup kemungkina akan berubah.

Tiga hukum dialektika ini telah memberikan pengaruh besar pada gerakan Marxisme dan kemudian menjelma dalam cakupan besar, skala negara, untuk dijadikan landasan dalam keputusan publik.

Materialisme pada dasarnya merupakan bentuk yang paling radikal dari paham Naturalisme. Sebagaimana diketahui, Naturalisme adalah teori yang menerima natura (alam) seagai keseluruhan realitas. Istailah natura telah di pakai dalam filsafat dengan bermacam-macam arti. Dari dunia fisika yang dapat dilihat oleh manuisa sampai kepada sistem total dari fenomena ruang dan waktu. Natura adalah dunia yang di ungkapkan kepada kita oleh sains alam (harold h. Titus, dkk, 1984: 293 ).

Menurut Wiliam R.Dennes, seorang penganut Naturalisme, ketika Naturalisme modern berpendirian bahwa apa yang di namakan kenyataan pasti bersifat kealaman, maka kategori pokok untuk memberikan keterangan mengenai kenyataan adalah kejadian. Kejadian – kejadian dalam ruang dan waktu ,merupaan satuan – satuan penyusun kenyataan yang ada, dan senantiasa dapat di alami manusia. Satuan –satuan semacam itulah yang merupakan satu-satunya penyusun dasar bagi segenap hal yang ada (katsoff,1992:216-218). Materialisme adalah  suatu istilah sempit, tetapi radikal dan merupakan bentuk Naturalisme yang lebih terbatas. Materialisme pada umunya mengatakan bahwa didunia ini tidak ada selain materi, atau bahwa natur (alam) dan dunia fisik adalah satu-asatunya kenyataan sebagai materi.

Menurut Harold H. Titus, dkk (1984 : 39), istilah materialisme dapat didefinisiaaakan dengan beberapa cara : pertama, materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa atom materi sendiri dan yang bergerak merupakan unsur – unsur yang berbentuk alam dan bahwa akal serta kesadaran (consciousnes) termasuk di dalamnya segala proses phisikal meruapakan mode materi tersebut dan dapat di sederhanakan menjadi unsur–unsur fisik; kedua, bahwa doktrin alam semesta dapat ditafsirkan seluruhnya dengan sains fisik.

Alam (universe) itu merupakan kesatuan material yang tidak terbatas ; alam, termasuk didalamnya segala materi dan energi (gerak atau tenaga) selalu ada dan tetap ada, dan alam adalah realitas yang keras, dapat di sentuh, material, objektif dan dapat diketahui oleh manusia. Materialsme modern mengatakan bahwa materi ada sebelum jiwa (mind) dan di dunia material adalah yang pertama, sedangakan pemikiran tentang dunia ini adalah nomor dua (charles. S. Seely, 1960:7).

Dalam arti sempit, materialisme adalah teori yang mengatakan bahwa semua bentuk dapat diterangkan menurut hukum yang mengatur materi dan gerak. Materialisme berpendapat bahwa semua kejadian dan kondisi adalah akibat lazim dari kejadian-kejadian dan kondisi-kondisi sebelumnya. Benda-benda organik atau bentuk-bentuk yang lebih tinggi dalam alam hanya merupakan bentuk yang lebih kompleks daripada bentuk anorganik atau bentuk yang lebih rendah. Bentuk yag lebih tinggi tidak mengandung materi atau energi baru dan prinsip sains fisik adalah cukup untuk merenungkan segala yang terjadi atau yang ada. Semua proses alam dapat, baik organik atau inorganik telah dipastikan dapat diramalkan jika segala fakta tentang kondisi sebelumnya dapat diketahui (Titus, dkk, 1984:294).

Dengan demikian, Materialisme selalu memberikan titik tekan bahwa materi merupakan ukuran segalanya, melalui paradigma materi ini segala kejadian dapat diterangkan. Artinya, segala kejadian sebagai kategori pokok untuk memahami kenyataan sesungguhnya dapat dijelaskan melalui kaidah hukum-hukum fisik. Keseluruhan perubahan dan kejadian dapat dijelaskan melalui prinsip- prinsip sains alam semata-mata, karena kenyataan sesungguhnya bersifat materi dan harus dijelaskan dalam ‘frame’ material juga. Sedangklan satu-satunya dunia yang diketahui atau dapat diketahui adalah dunia yang sampai pada kita melalui indra.

Sedangkan istilah Dialektika –pada dasarnya- bukanlah merupakan terminologi baru dalam filsafat. Bila ditelusuri lebih jauh, pengertian ini telah terkandung dalam filsafat Herkleitos (500 SM) yang mendasarkan filsafatnya pada ‘pertentangan-pertentangan’, dan pertentangan adalah arti umum dan awal dari dialektika. Sokrates kemudian juga menggunakan dialektika sebagai metode untuk memperoleh pengetahuan melalui cara-cara dialog, mempertanyakan dan kemudian membantah jawaban yang diperoleh untuk memperoleh kepastian pengetahuan.

Isilah dialektika ini kemudian terlembaga pada filsafat Hegel (1770-1831), yang merumuskan dialektika sebagai teori tentang persatuan hal-hal yang berentangan (Andy muawiyah Ramli, 2000: 12) Ddunia menurut Hegel selalu berada dalam proses perkambangan. Proses perkembangan tersebut bersifat Dialektik, artinya, perubahan-perubahan itu berlangsung dengan melalui tahapan afimasi atau tesis, pengingkaran atau anti tesis dan ahirnya sampai kepada antegrasi atau sintesis (Titus, dkk., 1984:302).

Untuk lebih jelas nya, asal-usul kata dialektika ini dijumpai dalam tulisan Lakhot (1995: 11):

‘Ddialectics –from Greek ‘dialego’-to convers, dispute. In antiquity it meant the art of arriving at the truth by discovering contradiction is the arguments of an oppenent and overcomingthem. Later it come to be applied to a method of apprehending reality’.

Dialektika berasal dari yunani ‘dialego’ yang artinya pembalikan, perbantahan. Di dalam pengertian lama, dialektika bermakna sebagai seni pencapaian kebenaran melalui cara perentangan dalam perdebatan dalam suatu perdebatan nya dari satu pertentengan berikutnya. Selanjutnya dialektika dipergunakan untuk suatu metode dalam memahami kenyataan.

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa berfikir dealiktis salah satu aspeknya adalah memahami kenyataan sebagai totalitas, dalam artian bahwa keseluruhan yang ada didalamnya memiliki unsur-unsur yang saling bernegasi (mengingkari dan di ingakari), saling berkontradiksi (melawan dan dilawan), dan saling bermediasi (memperanatari dan diperantarai). Pemahaman ini mengisyaratkan suatu dalil bahwa kehidupan yang nyata ini saling berkontradiksi, bernegasi, dan bermediasi (shindunata, 1982: 33)

Secara ringkas dialektika memandang apapun yang ada sebagai kesatuan dari apa yang berlawanan sebagai perkembangan melalui langkah-langkah yang saling berlawanan, sebagai “hasil dari”, dan “unsur dalam”, sebuah proses yang maju melalui negasi atau paenyangkalan. Kakhasan negasi itu adalah apa yang dinegasikan tidak dihancurkan atau ditiadakan melainkan ayang disangkal hanyalah segi yang salah (yang membuat pernyataan itu salah), tetapi kebenaranya tetap diangkat dan dipertahankan.

Pola penyangkalan dialektis ini oleh Hegel dinamakan sebagai “aufheben” yang mempunyai tiga arti : “menyangkal atau membatalkan“ , “menyimpan” , “mengangkat”. Dalam gerak negasi ketiganya selalu hadir tetapi tidak dalam kerangka triadik, sebagaimana selalu dipahami orang, meski hegel tidak pernah menggunakanya, yaitu: tesis, antitesis, dan sintesis, melainkan dual yaitu yang sberstruktur dua .

Dalam konteks ini Marx dan juga Engels-menerima prinsip dialektik tersebut, tetapi ia menolak prinsip ontologis dari dialektika Hegel, menurut Marx adalah karena Hegel menyajikanya dalam bentuk mistik (Titus, dkk., 1984:303). Sebagai mana diketahui, Hegel dan juga kaum idealisme lainya, mengkonstatir sesuatu pemahaman bahwa alam merupakan hasil ruh (absolut), sehinga dialektika yang muncul adalah dialektika idea. Artimya, dialektiaka -dengan demikian-hanya terjadi dan dapat diterapkan dalam dunia abstrak, yaitu ide atau pikiran manusia.

Prinsip dialektika Hegel dan kaum idealis ini ditolak oleh Marx. Bagi Marx, segala sesuatu yang bersifat rohani merupakan hasil materi, sehingga dialektika yang dia  kembangkan adalah dialektika materi. Bahwa dialektika terjadi di dunia nyata  bukan di dunia materi sebagaimanayang dikonstatir Hegel. Karena itulah, filsafat Karl Marx disebut dengan ‘materialisme dialektik’ (dialectical materialism) (K. Bertens, 1981: 80). Proses dialektika adalah suatu fakta empiris, manusia mengetahuinya dari penyelidikan tentang alam, dikuatkan oleh pengetahuan yang lebih lanjut tentang hubungan sebab musabab yang dibawakan oleh ahli sejarah sains.

Penyebutan filsafat Marx dengan materialisme dialektik-dengan demikian-terletak pada asumsi dasar yang mengatakan bahwa benda merupakan suatu kenyataan pokok (fundamental reality) yang selalu terjadi dalam suatu prses perubahan dan pertentangan di dalamnya. Perubahan dalam pertentangan tersebut  terjadi dalam dunia nyata yang dapat diamati indra. Apa yang terjadi dalam dunia nyata berpengaruh secara signifikan ke dalam konstruksi kesadaran manusia. Menurut Marx dan Engels (1947: 12-14), bukanlah kesadaran manusia yang menentukan adanya mereka, tetapi sebaliknya, penghidupan sosial mereka yang menentukan kesadaranya.

Filsafat materialisme berpagang teguh pada pendapat bahwa  kenyataaan itu benar-benar ada secara obyektif, tidak saja berada dalam ide-ide kesadaran manusia (man’s consciousness) )Andi Muawiyah Ramli, 2000; 17).Konsekuensi logisnya adalah pengetahuan tentang realitas tidak dapat ipuisahkan dari kesadaran manusia. Bahkan materialisme mengakui bahwa kenyataan benda berada diluar persepsi kita tentangnya, sehingga kenyataan objektif adalah penentu terakhir terhadap ide.

Dengan demikian dapat dijelaskan bahwa material dealektis selalu bertitik tolak dari materi sebagai satu-satunya kenyataan. Karl marx mengartikan materialisma dialektik sebagai keseluruhan proses perubahan yang terjadi terus-menerus tanpa ada yang mengantarai. Dari prose perubahan tersebut memunculkan suatu keadaan akibat adanya pertentangan-pertentangan. Materi yang dimaksud menjadi sumber keberadaan benda-benda alamiah tersebut, sehingga senantiasa bergerak dan berubah tanpa henti-hentinya.setiap proses perkembangan terjadi dalam “koridor” dialektis melalui pertentangan-pertentangan di dalamnya.

Para Materialisme Marxis berupaya keras untuk menemukan dalil logika, guna memperkuat pemahaman yang menjelaskan kenyataan bahwa benda-benda, kehidupan, dan masyarakat, berada dalam keadaan bergerak dan perubahan yang konstan. Dan bentuk logika itu, tentu saja adalah dialektika. Dalam istilah Marx, dialektika diartikan sebagai ilmu hukum pergerakan, baik di alam realitas empiris, ataupun dalam ide pikiran manusiawi. Bisa diartikan dialektika secara sederhana adalah logika gerak, atau logika pemahaman umum dari para aktivis dalam gerakan.

2.3  Masalah masalah marxisme

Dalam mengemukakan teori ini, Marx sangat dipengaruhi oleh Hegel. Bahkan sampai saat ini pun kalangan Marxis masih menggunakan terminologi Hegel. Ada baiknya jika di sini disebutkan satu persatu ide Hegelianisme yang juga menjadi isi penting dari Marxisme:

  • Pertama, realitas bukanlah suatu keadaan tertentu, melainkan sebuah proses sejarah yang terus berlangsung.
  • Kedua, karena realitas merupakan suatu proses sejarah yang terus berlangsung, kunci untuk memahami realitas adalah memahami hakikat perubahan sejarah.
  • Ketiga, perubahan sejarah tidak bersifat acak, melainkan mengikuti suatu hukum yang dapat ditemukan.
  • Keempat, hukum perubahan itu adalah dialektika, yakni pola gerakan triadik yang terus berulang antara tesis, antitesis, dan sintesis.
  • Kelima, yang membuat hukum ini terus bekerja adalah alienasi-yang menjamin bahwa urutan keadaan itu pada akhirnya akan dibawa menuju sebuah akhir akibat kontradiksi-kontradiksi dalam dirinya.
  • Keenam, proses itu berjalan di luar kendali manusia, bergerak karena hukum-hukum internalnya sendiri, sementara manusia hanya terbawa arus bersama dengannya.
  • Ketujuh, proses itu akan terus berlangsung samapi tercapai suatu situasi, di mana semua kontradiksi internal sudah terselesaikan.
  • Kedelapan, ketika situasi tanpa konflik ini tercapai, manusia tidak lagi terbawa arus oleh kekuatan-kekuatan yang bekerja di luar kendali mereka. Akan tetapi, untuk pertama kalinya manusia akan mampu menentukan jalan hidup mereka sendiri dan tentunya mereka sendiri akan menjadi penentu perubahan.
  • Kesembilan, pada saat inilah untuk pertama kalinya manusia dimungkinkan untuk memperolah kebebasannya dan pemenuhan diri.
  • Kesepuluh, bentuk masyarakat yang memungkinkan kebebasan dan pemenuhan diri itu bukanlah masyarakat yang terpecah-pecah atas individu-individu yang berdiri sendiri seperti dibayangkan oleh orang liberal. Akan tetapi, merupakan sebuah masayrakat organik, di mana individu-individu terserap ke dalam suatu totalitas yang lebih besar, sehingga lebih mungkin memberi pemenuhan daripada kehidupan mereka yang terpisah-pisah.

Dari kesepuluh kesamaan tersebut, kuantitas materiil yang semakin kompleks bisa berubah menjadi suatu kualitas baru. Jadi, marxisme telah menambah beberapa unsur baru pada materialisme atomistis-mekanistis, khususnya bahwa evolusi diarahkan oleh semacam hukum imanen. Dengan demikian, menurut marxisme, materi dalam alam semesta telah berhasil menyusun kehidupan dan bahkan menghasilkan manusia sebagai perwujudan tertinggi dari materi.

 

Pelembagaan pemikiran Marx menjadi ideologi tersebut pada akhirnya menimbulkan kesalahan masyarakat atas dirinya bahkan tidak jarang mereduksi makna sebenanrnya dari apa yang dilontarkan Marx. Pemikairan Marx kemudian memunculkan pengikut yang dokmatis dan fanatik serta melahirkan bentuk penolakan yang meknaifkan atas pemikiran marx. Padahal Marx sendiri selalu menginginkan kebebasan berfikir sebab itu dalam karya – karyanya Marx mengutuk dokmatisme. Marx kemudian melihat teori – teorinya mengalami salah tafsir sehingga dari kenyataan ini ia pernah mengucapkan pengakuan, ‘sepanjanga yang saya tahu, saya bukan seorang Marxis.’ (Muhammad Hatta 1975 : 17 )

Ketika ajaran Marx di bakukan menjadi Marxisme oleh Friedrich Engels dan Karl Kautsky. Dalam pembakuan ini ajaran Marx yang sebenarnya rumit adan sulit dimengerti di sederhanakan agar cocok sebagai ideoloagi perjuangan kaum buruh. George Lucas menegaskan bahwa adukan Engels dan Kautsky itu menyimpang dari apa yang sebenarnya di maksudkan oleh Marx

lebih jauh lagi maka banyak kalangan yang menganggap Marxis adalah komunisme dngan sistem sosialisnya, memang hal ini tidak sepenuhnya salah tapi juga tidak sepenuhnya benar.  Hal ini mencapai puncak ketika partai komunis Rusia di bawah Lenin melakukan revolusi pada Oktober 1917 dan mengkonstatir Marxisme Lenimisme sebagai ideologi resmi ajaran komunis. Ideologi iniberkembang dengan sangat pesat di uni sovyet yang mana sepeninggal lenin tampuk kepempinan di ambil alih oleh stalin.(syamdani, 2009:113)

Pergerakan ideologi berkebang peast di daerah asia timur dan asia tenggara yan mana telah diketahui bahwa korea dan china serta kamboja adalh tempat tumbuh suburnya faham ini. Melalui sistem pemerintahan yang gagal inilah maka banyak rakyat yang melakukan perlawanan tehaadap pemeintah jkomunis di tiap-tiap negara yang disebabkan oleh tingginya angka korupsi dan desakan dari aliran liberalisme yang merupakan musuh utama dari komunisme.

BAB III

PEMBAHASAN MASALAH

3.1 Lahirnya marxisme

Karl Marx lahir di Trier, Prusia, 5 Mei 1818. ayahnya, seorang pengacara, menafkai keluarganya dengan relatif baik, khas kehidupan kelas menengah. Orang tuanya adalah dari pendeta yahudi (rabbi). Tetapi, karena alasan isnis ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda. Tahun 1841 Marx menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Berlin, Universitas yang sangat di pengaruhi oleh Hegel dan guru – guru muda penganut filsafat Hegel. Gelar doktor Marx di dapat dari kajian filsafat yang membosankan, tetapi kajian itu mendahului berbagai gagasannya yang muncul kemudian.

Setelah tamat ia menjadi penulis untuk sebuah koran liberal radikal dan dalam tempo 10 bulan ia menjadi editor kepala koran itu. Tetapi karena pendirian politiknya, koran itu kemudian di tutup pemerintah. Esai – esai awal yang di terbitkan dalam periode mulai mencerminkan sebuah pendirian yang membimbing Marx sepanjang hidupnya. Esai-esai tulisan Marx itu secara bebas di taburi prinsip-prinsip demokrasi , ia menolak keabstrakat filsafat hegelian, mimpi naif komunis utopia yang ia anggap sebagai tindakan politik prematur. Dalam menolak gagasn ini Marx meletakkan landasan bagi gagasan hidup sendiri.

Itulah awal mula pola pikir Marx yang cenderung kritis sehingga meimbulkan keresahan-keresahan pada  kaum elit yang mana pemikiran seperti itu sangat berbahaya bila di biarkan. Marx yang mulai muda sudah membenci dan menentang hegemonitas elitis yang di usung oleh kaum kapitalis berusaha untuk selalu berfikir kntradiksi sebagai anti tesis terhadap kapitalisme. Marx berjuang untuk kepentingan masyarakat pada tingkat bawah yang mana sebagian besar  merupakan kaum buruh dengan pendapatan minim dan kehidupan yang sederhana. Menurut Marx hal seperti ini adalah salah karena pada dasarnya manusia hidup memiliki hak yang sama sehingga tidak boleh ada kaum superior dan inferior. Sebagai penganut ideologi Naturalis yang seperti di anut Hegel maka Marx berusaha untuk menyempurnakan pendapat atau teori Hegel yang mana menurut Marx, hegel selalu berkutat pada idealis dan tidak abstrak maka kemudian marx mengkritisi teori Hegel agar menjadi materialis dan nyata. Dari sinilah Marx berusaha untuk mengembangkan teori materialis sebelumya menjadi teori materialis dialektis. Yang mana dari setiap permasalahan membutuhkan pendukung(tesis), penentang(anti tesis) dan kesimpulan(sintesis).

Pada 1843 ia terpaksa meninggalkan jerman untuk dapat suasana yang lebih liberal di Paris. Di Paris ia bergulat dengan gagasan Hegel dan pendukungnya, tetapi ia juga menghadapi dua kumpulan gagasan baru – sosialisme Prancis dan politik Ekonomi Inggris. Dengan cara yang unik dia menggabungkan hegelian, sosialisme dan ekonomi politik yang kemudian menentukan orientasi intelektualnya. Hal yang sangat penting pula adalah pertemuannya dengan orang yang kemudian menjadi teman seumur hidupnya, donatur dan kolaboratornya yakni Fredrich Engels. Engels anak pengusaha pabrik tekstil menjadi seorang sosialis yang mengkritik kondisi kehidupan yang di hadapi kelas buruh. Banyak di antara rasa kasihan Marx kesengsaraan kelas buruh berasal dari paparannya kepada Engels dan gagasannya sendiri. Tahun 1844 Marx dan Engels mengadakan diskusi panjang di sebuah Café terkenal di Paris dan meletakkan landasan kerja untuk bersahabat seumur hidup. Mengenai diskusi itu Engels berkata ”kesepakatan lengkap kami dalam dalam semua bidang teori menjadi nyata….dan perjanjian kerja sama kami mulai sejak itu” di tahun berikutnya Engels menerbitkan karya the condition Of The Working Class in England. Selama periode itu Marx menerbitkan sejumlah karya yang sangat sukar di pahami (kebenyakan belum di terbitkan semasa hidupnya) termasuk the Holy Family dan The German ideology (di tulis bersama Engels)dan ia pun menulis the economic and philosophic manuscripts 1844 yang menandakan perhatian karl marx terhadap bidang ekonomi semakin meningkat. Dia berharap dari hasil karyanya bissa merubah paradigma mayarakat terutama kaum penguasa untuk menerapkan teori ekonominya. Yang mana selama ini penguasa selalu menerapkan teori kapitalis yang dianggap marx sebagai sebuah system yang salah karena cenderung menguntungkan kaum elit an merugikan kaum buruh. Marx selalu mengkritisi stiap kebijakan yang dianggap manifestasi kepentingan elitis dalam koridor goverment polcy. Oleh sebab itu dalam setiap karya marx beliau cenderung menolak bahkan mengutuk hegemonitas, karena marx melihat kesenjangan sosial yang sangat luas antara elitis dengan kaum buruh.

Marx dan Engels mempunya orientasi teoritis yang sama, namun ada juga beberapa perbedaan di antara mereka. Marx cenderung menjadi seorang intelektual teoritis yang kurang teratur dan sangat berorientasi kepada keluarga. Engels adalah pemikir praktis, rapi dan pengusaha teratur dan orang yang tak percaya pada lembaga keluarga. Meski mereka berbeda, Marx dan Engels menempa kerja sama yang akrab sehingga mereka berkolabirasi menulis buku dan artikel dan bekerja sama dalam organisasi radikal, dan bahka Engels membantu membiayai Marx selama sisa hidupnya sehingga memungkinkan Marx mencurahklan perhatiannya pada kegiatan intelektual dan politiknya.

Karena beberapa tulisannya telah menggangu pemerintahan prusia, pemerintah perancis (atas permohonan prusia) mengusir Marx tahun 1845 dan karenanya Marx pindah ke Brussel. Radikelismenya meningkat, dan ia menjadi anggota aktif di bidang gerakan revolusioner internasional. Ia pun bergabung dengan liga komunis dan bersama Engels diminta menulis anggaran dasar liga itu, hasilnya adalah Manifesto Comunis 1848, sebuah karya besar yang di tandai oleh slogan-slogan politik yang termasyur dan mampu menginspirasi kaum buruh (misalnya ‘kaum buruh seluruh dunia bersatulah’!!). dari sinilah awal mula propaganda kaum buruh (proletariat) dalam menginspirasi seluruh kaum buruh didunia untuk melawan hegemonitas dan menggunakan system ekonomi komunisme yang mereka anggap sebagai system terbaik bagi seluruh masyarakat.

Tahun 1849 ia pindah ke london dan, mengingat kegagalan revolusi politik tahun 1848, ia menarik diri dari aktivitas revolusioner dan beralih ke kegiatan riset yang lebih rinci tentang peran sistem kapitalis. Study ini akhirnya menghasilkan tiga jilid buku “das kapital”. Jilid pertama di terbitkan tahun 1867; kedua jilid yang lainya di terbitkan sesudah ia meninggal. dari mempelajari secara mendalam system kapitalis marx memperoleh kesimpulan bahwa system ini cenderung menguntungkan kaum elit. Selain itu banyak sekali penyimpangan antara teori dengan implementasi pelaksanaanya, yang mana semua kebijakan selalu dibuat untuk kepentingan industrialisasi yang pada akhirnya selalu merugikan kaum buruh. Selama riset dan menulis itu ia hidup dalam kemiskinan, membiayai hidupnya secara sederhana dari honorarium tulisannya dan bantuan dana dari Engels. Tahun 1864 Marx terlibat kembali dalam kegiatan politik, bergabung dengan ‘The Internasional’, sebuah gerakan buruh internasional. Ia segera menonjol dalam gerakan itu dan mencurahkan perhatian selama beberapa tahun untuk gerakan itu. Ia mulai mendapat popularitas, baik sebagai pimpinan internasional maupun sebagai penulis das kapital. Perpecahan gerakan internasional tahun 1876, kegagalan dari berbagai gerakan revolusioner dan penyakit – penyakit, akhirnya membuat Marx ambruk. Istrinya wafat tahun 1881 dan anak perempuannya tahun 1882 dan Marx sendiri wafat di tahun 1883.

Setelah kematian Marx yang mengembangkan pemikiranya adalah kolega sekaligus rekan seperjuanganya yaitu Engels. Untuk mengembangkan pemikiranMarx yang sangat sulit dan rumit ia mendapat dukungan dari tokoh gerakan buruh internasional yang bernama Kautsky.

Buah fikir antara engels dan kaustky yang mencoba menyederhanakan pemikiran Marx pada akhirnya merupakan titik awal dari lahirnya ideologi Marxisme. Penyederhanaan ini dimaksudkan untuk mendukung gerakan perjuangan yang dilaklukan oleh kaum buruh yang tergabung dalam “The Internasional”.

Agenda fislafat Marxisme sebenarnya sudah dimulai untuk dijadikan sebuah ideologi oleh Engels semenjak Marx masih hidup, akan tetapi Marx tidak setuju karena pada dasarnya Marx selalu menentang dogmatisme.

Sedemikian besar pengaruh pemikiran Marx dalam sejarah umat manusia, maka tidak berlbihan kjalau dia dimasukkan sebagai salah satu filsuf, sosiolog, dan ahli ekonomi terkemuka. Karena dia mampu mengubah cara berfikir manusia sekaligus mengubah cara manusia dalam bertindak. Bahkan sebagai sebuah ideologi perjuangan politis teori-teoiri Marx mampu menyemangati sebagian kegiatan buruh yang mendasari kebanyakan gerakan pembebasan sosial.

Pemikiran Marx pada dasarnya tidak hanya berkutat pada persoalan politis ideologis perjuangan kaum buruh (sebagai ideologi perjuangan), tetapi menyebar luas kedalam struktur kognisi masyarakat dalam pembentukan teori-teori pengetahuan.

3.2 Masalah-masalah yang timbul akibat ideologi marxisme dalam masyarakat

Bidang Politik

Dalam dunia poltik Ideologi sangat memainkan peranan penting karena inilah ranah ideologi sebenarnya.Dalam politik dasar dari segala kebijakan berawal dari Ideologi apa yang dipakai atau dianut oleh penguasa tersebut.. Dan setiap kebijakan juga akan bersumber dari ideologi karena merupakan dari sumber dari segala hukum .

Secara umum marxisme selalu menentang hegemoni elitis yang kurang berpihak kepada kaum buruh (masyarakat kecil) dimana kebijakanya cenderung tidak populer. Oleh sebab itu utnuk mengakomodir kepentingan, pemikiran, dan aspirasi mereka maka dibentuklah sebuah organisasi yang dinamakan “The International”. Dimana yang dijadikan landasan berfikir dan bertindak adalah teori Marx yang tertuang dalam karya “Manifesto Comunist”. Dalam memperjuangkan pemikiran mereka maka organisasi ini tidak sungkan untuk melakukan anarkisme.

 Jelas ini merupakan perlawanan nyata terhadap keamanan nasional serta stabilitas negara sehingga negara (pemerintah) cenderung mengharamkan ideologi Marxisme dinegaranya. Bahkan anarkisme bagi mereka dianggap sebagai bentuk pejuangan dengan propaganda revolusi, dalam catatan sejarah menunjukan bahwa pemindahan kekuasaan di Rusia terjadi dengan proses anarkisme yaitu dengan membunuh keluarga Rosmanov penguasa yang beraliran kapitalis. Revolusi ini di prakarsai oleh Lenin yang merupakan pengikut Marxis ortodok. Dalam perjalananya Lenin menciptakan ideologi politik baru yang disebut Marxisme Leninisme yang mana pada dasarnya sama juga dengan penguasa lainya yang ingin mengukuhkan kekuasaanya. Padahal hal ini jelas bertentangan dengan inti pemikiran Marx yang menentang hegemoni.

Dalam penjabara tentang metode materialis dialekti yang di pakai oleh Marx selalu berusaha untuk memberikan konsep nyata terhadap kapitalis yang ia kritisi. Dengan jelas Marx berusaha mengkritisi tata birokrasi kapitais yang di kuasai oleh elit dengan komposisi Trias Politica yang di kembangkan oleh Weber, dimana tata birokrasi di isi oleh Eksekutif, Yudikatif dan Legislatif. Dengan masing-masing memiliki tugas dan saling berkaitan dalam proses check and balance. Iniah yang dikritisi oleh Marx bahwa dalam perjalanannya hal ini ternyata berbeda dengan aplikasinya. Marx erpendapat bahwa Trias Politica tetap di pertahankan namun orang- orang yang duduk di dalamnya harus yang kompeten dan berpihak pada rakyat kecil atau kaum proletar, karena dalam setiap bangsa kaum proletar cenderung lebih besar sehingga bila hal ini terjadi maka ekonomi negara akan baik karena pilar utama negara yaitu rakyatya sudah memiliki kesetaraan dalam konteks kesejahteraan.

Bidang ekonomi

Sekitar abad 18 sistem ekonomi yang berkembang di eropa sebagian besar menganut sistem ekonomi kapitalis dengan metode industrialisasi. Dimana semua usaha bergantung penuh terhadap permodalan sehingga menimnbulkan munculnya pihak swasta yang di kuasai oleh kaum elit. Sedangkan masyarakat kecil merupakan pekerja (buruh) dengan pendapatan yang sangat kecil.

Dengan kebijakan pemerintah yang berubah dari negara agraris mejadi negara industri maka semua usaha untuk mendirikan industri oleh pemerintah di permudah. Swasta yang menjadi tulang punggung negara dalam meningkatkan ekonomi menjadi anak emas pda masa itu sehingga semua kebijakan negara banyak menguntungkan mereka. Pandangan ekonomi swasta adalah mencari keuntungan yang sebesar-besarnya sangat merugikan kaum buruh karena mereka berusaha untuk mengeluarkan biaya produksi sekecil-kecilnya. Untuk melindungi kepentingan inilah maka pemerintah mengeluarkan kebijakan atau undang-undang perburuhan yang merugikan kaum buruh.

Berangkat dari fenomena ini maka Karl Marx berkeinginan untuk merubah pranata yang ada agar semua manusia memiliki hak yang sama dan tidak ada kaum inferior. Melalui teori-teorinya Marx degan lantang menentang hegemonotas elitis yang kurang tepat. Dalam karya “Das Kapitalis” jelas-jelas Marx mengkritisi kekurangan sistem ini dengan menawarkan sebuah sistem baru yang lebih berpihak kepada masyarakat kecil yang dinamakan sistem ekonomi komunis, ini merupakan anti tesis kapitalis.

Dengan sistem ini Marx berpendapat bahwa ekonomi negara akan kuat apabila di dukung oleh ekonomi masyarakat yang kuat pula. Pada masa itu cenderung yang memiliki ekonomi mapan adalah kaum elit sehingga menurut pemikiran Marx sistem ekonomi seperti itu akan mudah runtuh.

Akan tetapi sistem ekonomi komunis yang di anut oleh lenin dari Rusia kemudian dimodifikasi untuk kepentingan sendiri menjadi lebih buruk karena banyak terjadi korupsi oleh elit pemerintahan Lenin.

Apabila konsep pemikiran Marx dalam bidang ekonomi dengan jargon persamaan hak dalam ekonomi bisa terwujud maka dapat di pastikan sistem ekonomi model ini akan lebih kuat jika dibandingkan dengan sistem kapitalis karena daya beli masyarakat akan tetap terjaga. Secara otomatis maka proses industrialisasi akan berjalan lancar sehingga negara benar-benar mejadi tempat yang tepat untuk bernaung.

Sosial budaya

Secara garis besar pemikiran Karl Marx berisi tentang persamaan dan pemerataan baik dalam bidang ekonomi politik maupun sosial budaya. Apabila knsep ekonomi dan politik sudah tertata maka dengan sendirinya hal ini akan berpengaruh terhadap sosial budaya masyarakat. Karena bila mindset masyarakat sudah berubah untuk mengutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi maka ide masyarakat madani pasti akan terwujud.

Dari teori-teori Marx maka dapat di pastikan bahwa isu tentang separatis, suku, ras, dan agama akan hilang dengan sendirinya karena sikap ini sebenarnya timbul karena diskriminasi tehadap konsep tertentu serta bangsa atau ras tertentu yang mana terdapat konsep superior (enguasai) dan inferior (di kuasai). Secara asasi manusia tidak ada yang ingin menjadi inferior karena pada dasarnya manusia memiliki hak hidup yang sama dan inilah yang menimbukan pergolakan baik dalam diri maupun ke lingkungannya.Apabila masyarakat semua memiliki hak yang sama dalam berekspresi maka issu itu akan terhapuskan.

Konsep kapitalis yag cenderung menggunakan tekhnolgi dalam mencapai angan- angan mereka dalam mengelola usaha maka ini berpengaruh juga terhadap nilai- nilai kearifan lokal yang ada dalam suatu daaerah karena semua yang konvensional atau klasik di anggap tidak modern dan harus di tinggalkan. Kearifan lokal yang telah membentuk peradaban manusia dalam pranata yang baik mencoba untuk di serang dengan menerapkan konsep yang baru yang mana kadang – kadang belawanan dngan pranata yang sudah ada. Inilah yang ingin di kritisi oleh marx karena pada dasarnya tiap orang memiliki hak yang sama untuk mengatur hidup mereka keluarga serta kelompoknya dengan norma yang telah mereka sepakati. Oleh sebab itu negara sebagai pengayom haruslah melindugi hal semacam ini bukan malah sebaliknya yag berusaha untuk mensentralkan semua konsep negara untuk rakyat yang hanya meguntungkan elitis saja.

Konsep kapitalis yang cenderung membentuk manusia menjadi individualis menurut Marx hal ini sangat bertentangan dengan kodrat manusia sebagai makhluk sosial. Manusia memang memiliki rasa individualis tapi dalam konteks makro yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak harus dilindungi negara. Sehingga masyarakat tidak ada rasa termarginalkan dalam kehidupannya karena perbedaan ras agama maupun ekonomi. Perjuangan yang seperti inilah yang dia anggap perlu dilakukan untuk membentuk masyarakat yag sejahtera baik lahir maupun batin.

Inilah pemikiran-pemikiran besar Marx yang mampu mengubah dunia dimana tidak hanya merubah mindset tapi juga merubah cara bertindak manusia dalam menjalani kehidupan. Dimana beliau selalu berdiri dalam titik tengah dengan mengedepankan pola materialis dilektisnya yang selalu melihat sesuatu pada kodrati manusia sebagai penentu kebijakan yang terbaik.

Kebenaran di dunia ini sifatnya relatif kontekstual yang mana pada suatu saat akan ada kebenaran yang lebih benar karena kebenaran sejati bukan terletak pada “ apa” namun terletak pada “siapa”.

 

BAB IV

PENUTUP

4.1 Kesimpulan

Segala konsep pemikiran manusia lahir dari situasi kontekstual yang di anggap keluar dari idealisnya. Begitu juga dengan lahirnya konsep marxisme yang di ambil dari ide pemikiran Karl Marx yang muncul karena arogansi knsep kapitalis yang merugikan kaum miskin atau proletariat.

Karl marx berusaha merumuskan suatu konsep pemerintahan dan sistem ekonmi yang baik dan berpihak keada kaum iskin karena rakyat merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam konsep demokratis yang mejadi landasan fikir filsuf pada masa itu. Akan tetapi dalam realitanya hal tersebut dilupakan oleh konseptor kapitalis yaitu Weber. Sebelum Marx, Hegel juga sudah mengkritisi sistem ini namun cuma dalam teori idealis yang mana menurut Marx hal ini kurang bermaka karena hanya berkutat pada dunia ide. Oleh sebab itu Marx melakukan kritik terhadap teori-teori Hegel, dengan metode materialis dialektisnya Marx menulis sebuah karya besar yang di sebut dengan manifesto communist sebagai bentuk nyata solusi terhadap arogansi kapitalis.

Dari konteks ekonomi marx yang memang menentang hegemonitas terus mengkoreksi kapitalis dan melahirkan sebuah karya yang disebut das kapitalis. Marx menyatakan bahwa kaum elit sangat di untungkan dengan konsep ini sehingga perlu sebuah revolusi pemikiran untuk melawan hegemoni elitis.

Kefilsafatan marx tidak perlu di ragukan lagi karena dari buah pemikiranya sangat bermanfaat terhadap perkembangan kehidupan manusia masa kini. Sehingga kita tidaklah bijak jika menghakimi marxisme merupakan ajaran yang terlarang dak sesat karena pada dasarnya pendapat manusia itu tidak ada yang salah karena kebenaran sendiri sifatnya relatif kontekstual.

4.2 Saran

Demikian makalah yang dapat kami sampaikan, semoga yang terdapat dalam pembahasan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua pada umumnya dan khususnya bagi para pembaca. Apabila dalam makalah ini terdapat kesalahan baik dalam penulisan maupun pemaparannya, kami selaku pemakalah mohon maaf. Dan tidak lupa kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun sehingga dapat dijadikan bahan perbaikan makalah yang akan datang.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/marxisme.

Harold, Titus, dkk., 1975, Persoalan – persoalan Filsafat, Jakarta: Bulan Bintang.

Hatta, Mohammad, 1975, Ajaran Marx atau Kepintaran Seorang Murid Membeo, Jakarta: Bulan Bintang.

Katsoff, Louis O., 1992, Pengantar Filsafat, terj. Soejono Soemargono: Tiara Wacana.

 Ramli, Andi Muawiyah, 2000, Peta Pemikiran Karl Marx; Materialisme dialektis dan Materialisme historis, Jogjakarta: LkiS.

Santso, Listiono, dkk., 2003, Epistemologi Kiri, Jogjakarta: Ar-ruz media.

Seely, Charles S., 1960, Modern Materialism: A Philosophi of Action, New York: Philosopical Library.

Sindhunata, 1982, Dilema Manusia Rasional, Jakarta: Gramedia.

Suparlan, Dadang, 2008, Pengantar Ilmu Sosial, Jakarta: Bumi Aksara.

Syamdani, 2009, Kisah Diktator-diktator Psikopat, Yogyakarta: Narasi.

 

 

2 thoughts on “makalah sejarah tentang marxisme

  1. phos mengatakan:

    GAN…… MAKASIH Y MAKALAHNYA,,,,,
    MANTEP BGT…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s